Berbelanja di toko-toko swalayan memang mengasyikan. Kita bisa memilih sendiri, mangambil sendiri, bahkan mencicipi barang yang akan kita beli sebelum membayarnya. Selain itu, kelengkapan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan juga seringkali merupakan alasan kita untuk berbelanja di swalayan. Apa lagi, belakangan ini banyak bermunculan toko-toko swalayan waralaba yang semakin dekat dengan jangkauan langkah kita dari tempat kita tinggal.
Ironisnya, di tengah semua kelebihan yang dimiliki toko swalayan, ada satu hal kecil yang seringkali mengganggu ketentraman hati kita. Kira–kira apakah hal kecil itu? Jawabannya mungkin berbeda, Ada yang bilang senyuman pramuniaganya, ada yang bilang parkiran swalayannya, muka pramuniaganya jelek, tempat sampah swalayannya tidak tersedia dan lain sebagainya. Namun bagi saya dan mungkin beberapa dari anda, ketidak-tentraman kecil itu bisa berupa kembalian receh koin yang senantiasa ditukar dengan permen. Nilainya memang tidak seberapa tapi rasanya bagaikan dilecehkan atau diperkosa oleh para pramuniaga swalayan tempat kita berbelanja. Emangnya disini anak-anak yang selalu berkata "ya" pada preman eh permen?hehehe

Oke lah kalau kejadian ini hanya berlangsung kadang kala. Tapi kalau setiap kali kita berbelanja di tempat yang sama dan kembalian yang kita terima seharusnya koin, malah lagi-lagi dikasih permen, ya lama-lama dongkol juga. Saudara saya , Jimmy yang tinggal di daerah Manyar Kertoadi pernah bersitegang dengan pramuniaga swalayan di kompleks perumahannya. Masalahnya sama, kembaliannya dia sejumlah Rp. 300 berupa permen, Dengan nada kesal dia pun memprotes, “Mbak, dari pada aq dikasih permen mending dikasih shampoo po’o mbak?” “tapi Shampoo 500 mas” “yo wes tak tambai 200 ketimbang dilecehkan koyok ngene mbak. Mosok telungatus diijoli permen mbak?”. Akhirnya dia pulang dengan membawa shampoo yang lebih berguna karena bisa dipakai keramas. See? Dengan mendapatkan kembalian uang, kita masih dapat menggunakannya untuk berbelanja yang lain. Tapi kalo dengan permen kita cuma ada dua pilihan. Kalau tidak dimakan ya dibagikan ke orang lain.
Sebernarnya trik seperti ini sudah ada sejak lama. Orang tua saya juga memiliki toko kelontong dan kadang-kala ketika uang receh sedang langka, trik ini dipakai juga. Ini sebenarnya bukan mengganti uang receh dengan permen tetapi memaksa pelanggan agar mau mambeli permen dengan cara yang lebih halus. Jadi, end up nya kita mendapatkan double untung. Dari belanjaan sebelumnya dan dari penjualan permen itu sendiri. Padahal, Kalo memang niat berniaga yah tukarlah receh, bukannya menimpakan beban kepada konsumen.
Pernah terlintas pikiran iseng dibenak saya untuk mengumpulkan permen yg banyak. Dan ketika permen itu sudah mencapai jumlah yang cukup, saya akan mencoba menggunakan permen sebagai alat pembayaran untuk menggantikan uang. Mmm kira-kira gimana yah tanggapan mereka? Saya tidak bisa disalahkan donk. Karena yang menciptakan mata uang permen kan mereka?ya gak? Ide ini sebenarnya saya dapatkan dari sebuah film nasional. Kalau tidak salah film itu adalah Ada Apa Dengan Cinta (Dian Sastro). Disitu diceritakan tokoh cewek yang sedang kesal ini dibuat tambah kesal lagi dengan kembalian perman ini. Si tokoh cewek ini akhirnya terlibat argument dengan si kasir toko.
Saya salut dengan toko/warung konvensional. Karena ditengah gempuran peritail-peritail waralaba, mereka masih mampu melayani dengan baik. Salah satunya dengan senantiasa menyediakan uang receh. Semoga peritail swalayan mau berbenah agar tulisan ini menjadi tulisan terakhir mengenai isu ini. Bukan menjadi induk dari lahirnya tulisan-tulisan sejenis lainnya.
Ironisnya, di tengah semua kelebihan yang dimiliki toko swalayan, ada satu hal kecil yang seringkali mengganggu ketentraman hati kita. Kira–kira apakah hal kecil itu? Jawabannya mungkin berbeda, Ada yang bilang senyuman pramuniaganya, ada yang bilang parkiran swalayannya, muka pramuniaganya jelek, tempat sampah swalayannya tidak tersedia dan lain sebagainya. Namun bagi saya dan mungkin beberapa dari anda, ketidak-tentraman kecil itu bisa berupa kembalian receh koin yang senantiasa ditukar dengan permen. Nilainya memang tidak seberapa tapi rasanya bagaikan dilecehkan atau diperkosa oleh para pramuniaga swalayan tempat kita berbelanja. Emangnya disini anak-anak yang selalu berkata "ya" pada preman eh permen?hehehe

Oke lah kalau kejadian ini hanya berlangsung kadang kala. Tapi kalau setiap kali kita berbelanja di tempat yang sama dan kembalian yang kita terima seharusnya koin, malah lagi-lagi dikasih permen, ya lama-lama dongkol juga. Saudara saya , Jimmy yang tinggal di daerah Manyar Kertoadi pernah bersitegang dengan pramuniaga swalayan di kompleks perumahannya. Masalahnya sama, kembaliannya dia sejumlah Rp. 300 berupa permen, Dengan nada kesal dia pun memprotes, “Mbak, dari pada aq dikasih permen mending dikasih shampoo po’o mbak?” “tapi Shampoo 500 mas” “yo wes tak tambai 200 ketimbang dilecehkan koyok ngene mbak. Mosok telungatus diijoli permen mbak?”. Akhirnya dia pulang dengan membawa shampoo yang lebih berguna karena bisa dipakai keramas. See? Dengan mendapatkan kembalian uang, kita masih dapat menggunakannya untuk berbelanja yang lain. Tapi kalo dengan permen kita cuma ada dua pilihan. Kalau tidak dimakan ya dibagikan ke orang lain.
Sebernarnya trik seperti ini sudah ada sejak lama. Orang tua saya juga memiliki toko kelontong dan kadang-kala ketika uang receh sedang langka, trik ini dipakai juga. Ini sebenarnya bukan mengganti uang receh dengan permen tetapi memaksa pelanggan agar mau mambeli permen dengan cara yang lebih halus. Jadi, end up nya kita mendapatkan double untung. Dari belanjaan sebelumnya dan dari penjualan permen itu sendiri. Padahal, Kalo memang niat berniaga yah tukarlah receh, bukannya menimpakan beban kepada konsumen.
Pernah terlintas pikiran iseng dibenak saya untuk mengumpulkan permen yg banyak. Dan ketika permen itu sudah mencapai jumlah yang cukup, saya akan mencoba menggunakan permen sebagai alat pembayaran untuk menggantikan uang. Mmm kira-kira gimana yah tanggapan mereka? Saya tidak bisa disalahkan donk. Karena yang menciptakan mata uang permen kan mereka?ya gak? Ide ini sebenarnya saya dapatkan dari sebuah film nasional. Kalau tidak salah film itu adalah Ada Apa Dengan Cinta (Dian Sastro). Disitu diceritakan tokoh cewek yang sedang kesal ini dibuat tambah kesal lagi dengan kembalian perman ini. Si tokoh cewek ini akhirnya terlibat argument dengan si kasir toko.
Saya salut dengan toko/warung konvensional. Karena ditengah gempuran peritail-peritail waralaba, mereka masih mampu melayani dengan baik. Salah satunya dengan senantiasa menyediakan uang receh. Semoga peritail swalayan mau berbenah agar tulisan ini menjadi tulisan terakhir mengenai isu ini. Bukan menjadi induk dari lahirnya tulisan-tulisan sejenis lainnya.
1 comments:
saya minta izin untuk menggunakan gambar di post anda untuk cause baru yang sedang saya buat di facebook.
Terima kasih.
Post a Comment