Anda berdomisili di Surabaya dan sekitarnya yang sering menggunakan jasa taksi? Ato anda jarang atau bahkan tidak pernah menggunakan jasa pelayanan taksi ? pernahkah muncul pertanyaan dalam benak anda tentang berapa unit taksi, khususnya taksi Blue Bird(karena taksi ini yang paling sering kita lihat) yang ada di Surabaya? iseng banget yah pertanyaannya? tapi it's oke saya memang terlahir untuk iseng.
Well, beberapa hari lalu saya mendapat pesanan untuk berbelanja ke daerah Kedungdoro. Karena barang yang akan saya beli tidak bisa diangkut dengan sepeda motor, saya memutuskan untuk berangkat dengan taksi.
Sayapun memutuskan untuk memanggil taksi yang didominasi kelir biru muda itu. Alasannya karena tempat mangkalnya dekat dengan perumahan tempat tinggal saya.
Setelah beberapa meter keluar dari portal perumahan, kami melewati salah satu taxi dari perusahaan yang sama yang sedang parkir. Dalam benak saya timbul pertanyaan, “kok kenapa yah bukan taksi yang terdekat yang sedang parkir ini yang dipanggil oleh operatornya?”
Ternyata jawabannya setelah saya tanya ke sopir taksi yang saya tumpangi ini adalah…operator malaui system GPS(Global Posisioning System) akan mencari dan menghubungi taksi yang bergerak yang terdekat ke lokasi si pelanggan taksi. Ooo pantes saja bukan taksi didekat rumah yang menjemput saya tapi taksi yang lumayan jauh karena taksi yag didekat rumah dalam posisi diam atau tidak bergerak.hhhmm saya jadi paham soal system pangil mamanggil mereka. Dan dengan system ini pula mereka selalu tahu dimana unit-unit taksi mereka berada.
Kemudian untuk mendepak rasa bosan, dalam perjalanan yang cukup jauh timbul pertanyaan-peranyaan iseng dari saya kepada supir taksi itu. Kebetulan supir taksi ini orang yang talkative. Hehe walaupun logat kami tidak nyambung-saya berlogat Kupang dan dia berlogat suroboyoan yang kental- seya mulai bertanya.
“Pak, kayaknya dimana –mana selalu ada taksi Blue Bird, emang ada berapa unit sih kira-kira di Surabaya ini?”
Tanpa iklan (seperti di acara kuis2 tv :)), dia menjawab kalau ternyata di Surabaya ini ada sekitar 800 (delapan ratus unit) taksi Blue Bird! Busyeet! Bisa kebayangkan kalo pas parkir butuh lapangan seluas apa tuh? Heheh kalo yang itu gak usah kwatir…mereka tidak semuanya beroperasi pada waktu yang bersamaan alias ada sitem siftnya. Ada yang keluar nya mulai jam 12 malam, ada yang mulai beroperasinya setiap pagi jam 8. yang beroperasi pada jam 8 pagi harus menyetor hasilnya pada pukul 12 malam dan begitu juga yang beroperasi pada jam 12 malam harus menyetor hasilnya pada jam 2 siang keesokan harinya. Lagi pula mereka mereka punya tiga pool yang cukup luas. Satu di Dinoyo yang baru (yang selalu ada spanduk cari sopirnya), satunya di Kenjeran dan yang satu lagi-maaf- saya lupa dimana hehehe.
Trus kalo taksi-taksi yang mangkal di hotel-hotel dan mal-mal itu gimana? Ternyata si perusahaan taksi harus membaya sewa tempat kepada pihak mal atau hotel untuk dapat menjejerkan taksi-taksi mereka disana. Wajar saja kalo di suatu hotel atau mal hanya ada satu jenis taksi atau ada beberapa taksi tapi tempat ngumpulnya yang beda.jadi itu bukan atas inisiatif para supir saja.
Dari jawabannya saya juga jadi tahu bahwa mereka boleh mangkal di mana aja (tempat mangkal groupnya) tanpa ada pembagian wilayah.
Lalu muncul lagi pertanyaan di kepala saya, “Pak…aku sering liat supir-supir taxi tidur di pingggir jalan, apa gak ada waktu libur yah buat supir taxi?” ooo ternyata saya salah. Supir taxi bukanlah “supir” becak. Supir taksi juga dikasih hari libur layaknya orang kantoran. Ada yang liburnya 2 hari seminggu, ada yang sehari seminggu. Istilahnya si pak supir taxi 5-2 sama 6-1.
Dan yang menarik disela-sela obrolan itu saya jadi teringat akan satu pertanyaan yang sering menggugah hati saya. Pertannyannya adalah “berapa sih pendapatan para supir taxi?”. Pertanyaan ini saya anggap menggugah hati saya karena setiap kali saya menumpang taxi sembari ngobrol bareng supirnya mereka selalu mengeluhkan pandapatan mereka. Walaupun mereka kerjanya “dalam ruangan ber AC” dan punya hari kerja seperti orang kantoran, ternyata pendapat mereka tidak sepasti orang kantoran. Gaji mereka adalah 30% persen dari pendapatan mereka hari itu. Jadi kalau misalnya mereka jari itu bisa dapat Rp 200.000 maka meraka sudah bisa membawa pulang Rp 60.000. wah lumayan yah? Satu bulan saja sudah sudah sekita 1.300.000 an dong? Eeiit tunggu dulu ternyata tidak semudah itu karena uang bahan Bakar menjadi tanggung jawab mereka. Jadi kalo setiap harinya bahan bakarnya Rp 100.000 yang ada mereka nombok Rp 40.000. belum lagi kalo ditambah uang makan-minum,rokok, plus uang buat keluarga. mmm susah juga yah jadi supir Taksi? Makanya gak heran kalo banyak supir taksi yang datang dan pergi. Dan gak heran juga kallau ketika kita menonton film-film Hollywood banyak orang yang setelah menggunakan jasa taksi akan berkata “keep the change”.
Semoga yang akan datang, disaat saya menggunakan jasa taksi sudah tidak terdengar lagi keluhan mengenai pendapatan yang kurang. Itu artinya semakin banyak orang di Surabaya yang menggunakan jasa taksi. Dan juga banyak yang pendapatannya meningkat sehingga salalu bilang keep the change hehehe.
Sekedar info:
-Untuk perjalanan taksi dari Raya Juanda ke Kedungdoro saya merogoh kocek sebesar Rp 59.900an.
Argo menunjukan angka 30.000an ketika saya sampai di depan Giant A.Yani
Info ini mungkin bisa bermanfaat buat orrang yang kebetulan ingin pergi ke tujuan yang sama dengan saya dengan menggunakan jasa taksi.
- Ini bukan promosi suatu perusahaan taksi tertentu. kebetulan waktu itu taksi yang saya panggil adalah taksi Blue Bird jadi ide untuk menulis ini muncul begitu saja.
Thank You
Well, beberapa hari lalu saya mendapat pesanan untuk berbelanja ke daerah Kedungdoro. Karena barang yang akan saya beli tidak bisa diangkut dengan sepeda motor, saya memutuskan untuk berangkat dengan taksi.
Sayapun memutuskan untuk memanggil taksi yang didominasi kelir biru muda itu. Alasannya karena tempat mangkalnya dekat dengan perumahan tempat tinggal saya.
Setelah beberapa meter keluar dari portal perumahan, kami melewati salah satu taxi dari perusahaan yang sama yang sedang parkir. Dalam benak saya timbul pertanyaan, “kok kenapa yah bukan taksi yang terdekat yang sedang parkir ini yang dipanggil oleh operatornya?”
Ternyata jawabannya setelah saya tanya ke sopir taksi yang saya tumpangi ini adalah…operator malaui system GPS(Global Posisioning System) akan mencari dan menghubungi taksi yang bergerak yang terdekat ke lokasi si pelanggan taksi. Ooo pantes saja bukan taksi didekat rumah yang menjemput saya tapi taksi yang lumayan jauh karena taksi yag didekat rumah dalam posisi diam atau tidak bergerak.hhhmm saya jadi paham soal system pangil mamanggil mereka. Dan dengan system ini pula mereka selalu tahu dimana unit-unit taksi mereka berada.
Kemudian untuk mendepak rasa bosan, dalam perjalanan yang cukup jauh timbul pertanyaan-peranyaan iseng dari saya kepada supir taksi itu. Kebetulan supir taksi ini orang yang talkative. Hehe walaupun logat kami tidak nyambung-saya berlogat Kupang dan dia berlogat suroboyoan yang kental- seya mulai bertanya.
“Pak, kayaknya dimana –mana selalu ada taksi Blue Bird, emang ada berapa unit sih kira-kira di Surabaya ini?”
Tanpa iklan (seperti di acara kuis2 tv :)), dia menjawab kalau ternyata di Surabaya ini ada sekitar 800 (delapan ratus unit) taksi Blue Bird! Busyeet! Bisa kebayangkan kalo pas parkir butuh lapangan seluas apa tuh? Heheh kalo yang itu gak usah kwatir…mereka tidak semuanya beroperasi pada waktu yang bersamaan alias ada sitem siftnya. Ada yang keluar nya mulai jam 12 malam, ada yang mulai beroperasinya setiap pagi jam 8. yang beroperasi pada jam 8 pagi harus menyetor hasilnya pada pukul 12 malam dan begitu juga yang beroperasi pada jam 12 malam harus menyetor hasilnya pada jam 2 siang keesokan harinya. Lagi pula mereka mereka punya tiga pool yang cukup luas. Satu di Dinoyo yang baru (yang selalu ada spanduk cari sopirnya), satunya di Kenjeran dan yang satu lagi-maaf- saya lupa dimana hehehe.
Trus kalo taksi-taksi yang mangkal di hotel-hotel dan mal-mal itu gimana? Ternyata si perusahaan taksi harus membaya sewa tempat kepada pihak mal atau hotel untuk dapat menjejerkan taksi-taksi mereka disana. Wajar saja kalo di suatu hotel atau mal hanya ada satu jenis taksi atau ada beberapa taksi tapi tempat ngumpulnya yang beda.jadi itu bukan atas inisiatif para supir saja.
Dari jawabannya saya juga jadi tahu bahwa mereka boleh mangkal di mana aja (tempat mangkal groupnya) tanpa ada pembagian wilayah.
Lalu muncul lagi pertanyaan di kepala saya, “Pak…aku sering liat supir-supir taxi tidur di pingggir jalan, apa gak ada waktu libur yah buat supir taxi?” ooo ternyata saya salah. Supir taxi bukanlah “supir” becak. Supir taksi juga dikasih hari libur layaknya orang kantoran. Ada yang liburnya 2 hari seminggu, ada yang sehari seminggu. Istilahnya si pak supir taxi 5-2 sama 6-1.
Dan yang menarik disela-sela obrolan itu saya jadi teringat akan satu pertanyaan yang sering menggugah hati saya. Pertannyannya adalah “berapa sih pendapatan para supir taxi?”. Pertanyaan ini saya anggap menggugah hati saya karena setiap kali saya menumpang taxi sembari ngobrol bareng supirnya mereka selalu mengeluhkan pandapatan mereka. Walaupun mereka kerjanya “dalam ruangan ber AC” dan punya hari kerja seperti orang kantoran, ternyata pendapat mereka tidak sepasti orang kantoran. Gaji mereka adalah 30% persen dari pendapatan mereka hari itu. Jadi kalau misalnya mereka jari itu bisa dapat Rp 200.000 maka meraka sudah bisa membawa pulang Rp 60.000. wah lumayan yah? Satu bulan saja sudah sudah sekita 1.300.000 an dong? Eeiit tunggu dulu ternyata tidak semudah itu karena uang bahan Bakar menjadi tanggung jawab mereka. Jadi kalo setiap harinya bahan bakarnya Rp 100.000 yang ada mereka nombok Rp 40.000. belum lagi kalo ditambah uang makan-minum,rokok, plus uang buat keluarga. mmm susah juga yah jadi supir Taksi? Makanya gak heran kalo banyak supir taksi yang datang dan pergi. Dan gak heran juga kallau ketika kita menonton film-film Hollywood banyak orang yang setelah menggunakan jasa taksi akan berkata “keep the change”.
Semoga yang akan datang, disaat saya menggunakan jasa taksi sudah tidak terdengar lagi keluhan mengenai pendapatan yang kurang. Itu artinya semakin banyak orang di Surabaya yang menggunakan jasa taksi. Dan juga banyak yang pendapatannya meningkat sehingga salalu bilang keep the change hehehe.
Sekedar info:
-Untuk perjalanan taksi dari Raya Juanda ke Kedungdoro saya merogoh kocek sebesar Rp 59.900an.
Argo menunjukan angka 30.000an ketika saya sampai di depan Giant A.Yani
Info ini mungkin bisa bermanfaat buat orrang yang kebetulan ingin pergi ke tujuan yang sama dengan saya dengan menggunakan jasa taksi.
- Ini bukan promosi suatu perusahaan taksi tertentu. kebetulan waktu itu taksi yang saya panggil adalah taksi Blue Bird jadi ide untuk menulis ini muncul begitu saja.
Thank You
0 comments:
Post a Comment